Kamis, 06 Desember 2012


KEPEMIMPINAN


Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan
Pemimpin dan kepemimpinan adalah dua kata yang saling terkait, masing-masing dengan kata dasar pimpin. Dengan awalan pe kata pimpin menjadi pemimpin yang berarti orang yang memimpin dan kepemimpinan adalah hal-hal yang berhubungan dengan pemimpin. Memimpin berarti “to lead” dalam bahasa Inggris. Kata to lead itu sendiri berasal dari kata laedere yang berarti people on journey – orang dalam perjalanan. Dari asal kata tersebut bisa dikatakan bahwa memimpin berarti membuat orang lain bergerak. Namun, dalam keseharian istilah kepemimpinan sering digunakan untuk tujuan berbeda pada situasi berbeda. Istilah kepemimpinan, misalnya digunakan untuk menunjukkan posisi seseorang di dalam organisasi. “Semua orang yang mempunyai posisi kepemimpinan diharap datang pada seminar yang akan kami selenggarakan besok pagi” adalah satu contoh yang menunjukkan bahwa posisi seseorang di dalam organisasi identik dengan pemimpin. Kepemimpinan juga digunakan untuk menjelaskan karakteristik seseorang “Supervisor kita yang baru tidak memiliki jiwa kepemimpinan seperti supervisor kita sebelumnya”. Kata jiwa kepemimpinan seolah-olah menunjukkan bahwa kepemimpinan merupakan sifat seseorang. Meski kedua contoh di atas berkaitan dengan kepemimpinan, keduanya belum memberi pemahaman umum tentang pemimpin dan kepemimpinan.

Bass, mengidentifikasi beragam definisi kepemimpinan sebagai berikut.
1.       Pemimpin sebagai fokus atau titik sentral dari proses kelompok
Definisi-definisi awal tentang pemimpin dan kepemimpinan menunjuk-kan adanya kecenderungan dalam melihat pemimpin sebagai seseorang yang berada di tengah-tengah kelompok dan menjadi pusat perubahan, pergerakan dan aktivitas kelompok.
2.       Kepemimpinan sebagai kepribadian yang berdampak pada orang lain
Para teoretis kepribadian cenderung menganggap bahwa seorang pemimpin adalah orang yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan kepribadian para pengikutnya sehingga ia bisa menggerakkan orang lain. J. Steven Ott, misalnya mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses hubungan antar pribadi yang di dalamnya seseorang mempengaruhi sikap, kepercayaan, dan khususnya perilaku orang lain.
3.       Kepemimpinan sebagai tindakan yang menyebabkan orang lain patuh
Pemimpin adalah seorang yang secara sepihak mampu mengendalikan orang lain untuk memenuhi keinginan Sang Pemimpin.
4.       Kepemimpinan sebagai pelaksanaan mempengaruhi
Kepemimpinan menurut pandangan ini tidak lain adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok dalam upayanya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5.       Kepemimpinan sebagai sebuah tindakan atau perilaku
Dengan perilaku kepemimpinan seperti dikatakan Fiedler adalah sebuah tindakan tertentu yang dilakukan seorang pemimpin dalam mengarahkan dan mengoordinasikan kerja kelompok. Termasuk dalam tindakan ini, misalnya membuat struktur hubungan kerja, memuji, dan mengkritik anggota kelompok, serta menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan dan perasaan anggota kelompok. Sementara itu, Katz and Khan mengatakan bahwa kepemimpinan adalah sebuah bentuk perilaku yang menyebabkan seseorang bisa mempengaruhi orang lain.
6.       Kepemimpinan sebagai bentuk persuasi
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memutuskan apa yang harus dikerjakan dan meminta orang lain agar mau mengerjakan hal tersebut. Jadi, kepemimpinan adalah seni berhubungan dengan orang lain, yakni seni untuk mempengaruhi orang lain dengan persuasi atau contoh, bukan paksaan, agar orang lain mau melakukan sebuah tindakan. Locke, et al., misalnya mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan proses mem-bujuk orang lain untuk mengambil langkah menuju suatu sasaran bersama.
7.       Kepemimpinan sebagai hubungan kekuasaan
Dalam hal ini, kepemimpinan dikaitkan dengan kekuasaan yang dimiliki seseorang sehingga dengan kekuasaan tersebut seseorang bisa mengendalikan tindakan orang lain.
8.       Kepemimpinan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan
Menurut pandangan ini kepemimpinan hanyalah salah satu instrumen yang kemungkinan tujuan bisa dicapai dan kebutuhan bisa terpenuhi.
9.       Kepemimpinan sebagai dampak dari sebuah interaksi
Munculnya kepemimpinan disebabkan karena terjadinya interaksi di dalam kelompok. Artinya, seseorang belum dianggap sebagai pemimpin sebelum dirinya berinteraksi dengan orang lain dan diakui oleh orang lain bahwa dirinya adalah seorang pemimpin.
10.    Kepemimpinan sebagai bentuk peran yang berbeda
Dalam sebuah masyarakat termasuk dalam sebuah organisasi setiap individu menempati posisi tertentu dan memainkan peran tertentu pula. Jika seseorang bisa memberi kontribusi yang diperlukan kelompoknya maka orang tersebut bisa dianggap sebagai pemimpin. Demikian juga jika orang tersebut bisa diandalkan dalam memberi kontribusi kepada kelompoknya maka dialah serang pemimpin.
11.    Kepemimpinan sebagai proses terciptanya struktur
Pandangan ini mengatakan bahwa kepemimpinan tidak disebabkan karena seseorang semata-mata menempati sebuah posisi di dalam organisasi atau karena dia memperoleh peran tertentu, tetapi karena dia bisa menginisiasi dan mempertahankan pola hubungan yang diperankan orang lain.

Dari beragam pandangan tentang kepemimpinan seperti tersebut di atas, pada akhirnya dapat diambil inti sari dari kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan merupakan sebuah fenomena kelompok. Seorang pemimpin tidak akan pernah ada jika tidak ada pengikut. Oleh karena itu, kepemimpinan selalu melibatkan persuasi atau pengaruh. Meski demikian, bukan berarti setiap proses mempengaruhi orang lain adalah sebuah proses kepemimpinan. Kepemimpinan hanya akan terjadi jika orang yang dipengaruhi mau melakukan tindakan yang bersifat sukarela, bukan karena diminta, terpaksa atau karena takut terhadap konsekuensi yang akan dihadapi jika mereka tidak melakukannya. Kemauan orang lain untuk melakukan tindakan sukarela inilah yang membedakan kepemimpinan dengan proses mempengaruhi lainnya, seperti kekuasaan dan otoritas. Dengan kekuasaan atau otoritas, misalnya seseorang bisa mempengaruhi orang lain, tetapi orang yang dipengaruhi mau melakukan tindakan tersebut karena takut atau karena terpaksa harus melakukannya. Agar orang lain mau melakukan tindakan sukarela, proses mempengaruhinya kadang-kadang tidak bisa dilakukan seketika melainkan melalui proses incremental – setahap demi setahap di luar proses keseharian yang bersifat mekanik dan direktif.
Kedua, pemimpin menggunakan pengaruhnya untuk menuntun orang lain atau anggota kelompok melakukan tindakan tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pemimpin mempengaruhi para pengikutnya melalui berbagai cara, seperti menggunakan otoritas yang memiliki legitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), menetapkan sasaran, memberi imbalan dan hukuman, restrukturisasi organisasi, dan mengomunikasikan sebuah visi. Seorang pemimpin dapat dipandang efektif apabila dapat membujuk para pengikutnya untuk meninggalkan kepentingan pribadi mereka demi keberhasilan organisasi (Bass, 1995; Locke, et al., 1991).

Ketiga, sering kali tidak bisa dihindari jika kehadiran seorang pemimpin karena kedudukan seseorang di dalam hierarki organisasi. Pemimpin biasanya berada puncak hierarki organisasi. Meski demikian, harus disadari pula bahwa proses kepemimpinan lebih dari sekadar menduduki suatu jabatan tertentu di dalam organisasi melainkan harus melakukan sesuatu agar orang lain terpengaruh dan mau melakukan tindakan secara sukarela. Sekadar menduduki posisi itu saja dipandang tidak cukup memadai untuk membuat seseorang menjadi pemimpin. Artinya, tidak selamanya seorang yang menduduki posisi tertentu di dalam organisasi adalah seorang pemimpin. Sebaliknya, kalaulah seseorang tidak menduduki jabatan tertentu bukan berarti dia bukan pemimpin. Menurut Burns(1978), untuk menjadi pemimpin seseorang harus dapat mengembangkan motivasi pengikut secara terus-menerus dan mengubah perilaku mereka menjadi responsif.

Perlunya Kepemimpinan
Katz and Khan mengajukan empat alasan mengapa kepemimpinan masih diperlukan.
Pertama, meski telah memiliki struktur organisasi yang menjelaskan kedudukan masing-masing individu di dalam organisasi dan pembagian kerja di antara mereka, namun harus diakui bahwa dalam batas tertentu desain organisasi sering tidak lengkap. Sederhananya, organisasi tidak bisa didesain, seperti mesin yang bisa dengan mudah dihidupkan lantas semuanya bisa berjalan secara otomatis, organisasi terdiri dari orang-orang yang membutuhkan sentuhan, memerlukan inspirasi, dorongan, dan motivasi. Untuk tujuan inilah seorang pemimpin dibutuhkan kehadirannya. Seorang pemimpin dengan demikian dituntut untuk menggerakkan semua orang di dalam organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Termasuk di dalamnya mengatur tugas, memutuskan siapa mengerjakan apa, dan mendelegasikan pekerjaan.

Kedua, organisasi tidak hidup dalam ruang isolasi yang terbebas dari pengeruh lingkungan luar. Oleh karena itu, lingkungan luar berubah organisasi juga harus beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Kehadiran seorang pemimpin dengan demikian diperlukan untuk mengidentifikasikan strategi baru yang mungkin bisa dijalankan untuk menyikapi perubahan lingkungan tersebut.

Ketiga, sebagai implikasi dari perubahan lingkungan eksternal, sering kali tidak bisa dihindarkan lingkungan internal pun harus mengalami perubahan. Demikian juga, tanpa harus menunggu perubahan lingkungan eksternal, lingkungan internal sering mengalami perubahan misal karena pertumbuhan atau karena siklus hidup organisasi lainnya yang menyebabkan organisasi menjadi semakin dinamik. Akibatnya, tidak jarang arah organisasi menjadi melenceng dari tujuan semula karena masing-masing unit organisasi menginterpretasi perubahan tersebut dengan bahasa masing-masing sehingga tidak jarang pula timbul konflik di antara mereka. Pada situasi seperti inilah peran seorang pemimpin menjadi penting untuk melakukan koordinasi dan menyelesaikan konflik.

Keempat, kehadiran seorang pemimpin sangat diperlukan terutama untuk memberi motivasi, menginspirasi, dan menjaga agar karyawan mau terus terlibat dalam kehidupan organisasi. Perlu disadari bahwa karyawan tidak selamanya hidup dengan organisasi. Mereka datang dan pergi. Mereka juga memiliki kehidupannya sendiri yang kadang-kadang tidak sejalan dengan keinginan organisasi. Oleh karena itu, mereka hadir dan bekerja untuk organisasi keinginan dan perhatiannya bukan tidak mungkin selalu mengalami perubahan. Padahal bagi organisasi itu sendiri, kehadiran mereka tidak lain untuk membantu organisasi menyelesaikan masalah dan mencapai tujuan organisasi. Ketika terjadi diskrepansi antara karyawan dengan organisasi inilah dibutuhkan seorang pemimpin guna menginspirasi dan memotivasi serta mengubah mereka menjadi orang yang memiliki komitmen dan berkontribusi terhadap kepentingan organisasi.   







Tidak ada komentar:

Posting Komentar